Contoh Pembahasan Penelitian Skripsi Keperawatan

Contoh Pembahasan Penelitian pada Skripsi Keperawatan. Setelah sebelumnya saya memberikan Proposal Skripsi Keperawatan dan Contoh Hasil Penelitian Kesehatan, maka kali ini kita akan kembali belajar tentang contoh pembahasan pada penelitian skripsi keperawatan. Monggo disimak ...

Contoh Pembahasan Penelitian pada Skripsi Keperawatan

Pada bab ini akan membahas faktor-faktor (tingkat pendidikan, sikap dan pengetahuan mengenai penyakit DHF, serta lingkungan) terhadap praktek pencegahan penyakit DHF. Variabel-variabel tersebut akan dibahas secara mendetail sesuai dengan tujuan penulisan penelitian ini.

6.1 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Praktek Pencegahan Penyakit DHF di Perumahan Lokojoyo
Melihat dari hasil perhitungan uji pearson correlation menunjukkan adanya hubungan yang erat antara faktor tingkat pendidikan dengan praktek pencegahan penyakit DHF, seperti yang ditunjukkan pada tabel 5.5 dimana tingkat signifikan P = 0,000 dari tingkat signifikan yang dipilih oleh penulis   P = 0,05. Hal ini berarti Ho ditolak, yang artinya antara tingkat pendidikan dan praktek pencegahan penyakit DHF mempunyai hubungan yang kuat.
Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah atau tidak lulus dalam pendidikan dasar akan sulit dalam menerima suatu informasi dalam mendapat suatu pengetahuan, berbeda dengan individu atau masyarakat dengan pendidikan yang tinggi, mereka lebih mudah menerima informasi yang ada melalui berbagai media. Untuk bisa menerima suatu informasi dibutuhkan ketrampilan pendidikan dasar seperti membaca dan menulis. Seperti halnya dalam melakukan kegiatan pencegahan penyakit DHF di masyarakat komplek Perumahan Lokojoyo memerlukan kemampuan dalam menerima informasi dari warganya. Keadaan ini dapat dilihat dari 40 responden dengan tingkat pendidikan SLTA melakukan praktek pencegahan penyakit DHF baik sebanyak 35 orang, semua responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi melaksanakan praktek pencegahan dengan baik pula, dan hanya 4 orang yang dengan tingkat pendidikan SLTP tidak melaksanakan praktek pencegahan penyakit DHF kurang. Dari data tersebut menunjukkan bahwa warga masyarakat dengan pendidikan yang baik akan mampu melaksanakan program pencegahan penyakit DHF dengan baik pula.
Berdasarkan nilai diatas terlihat bahwa mereka yang berpendidikan menengah ke atas aktif melaksanakan praktek pencegahan penyakit DHF di lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat dengan pendidikan yang tinggi akan mampu menganalisa suatu keadaan disekitarnya sehingga apa yang dilakukannya sesuai dan tepat. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh John Dewey, 1997 bahwa melalui pendidikan seseorang akan mempunyai kecakapan, mental, dan emosional yang membantu seseorang untuk dapat berkembang mencapai tingkat kedewasaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin bertambah pula kecakapannya, baik secara intelektual maupun emosional serta semakin berkembang pula pola pikir yang dimilikinya.
Masyarakat yang mempunyai pola pikir yang baik akan mudah beradaptasi pada situasi dan kondisi yang ada di lingkungannya untuk melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga masyarakat akan cepat tanggap akan perubahan yang akan dilakukannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari I.B Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo, 1995 bahwa pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup dalam memotivasi dirinya berperan aktif dalam kegiatan yang menunjang kesehatannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan dalam bertindak untuk mencapai kondisi kesehatan yang optimal di masyarakat. (Kuncoroningrat, 1997).
Demikian halnya yang dikemukakan oleh Suwarno, 1992 bahwa pendidikan merupakan bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu. Jadi dapat dikatakan pendidikan itu menuntun masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi misalnya tentang hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Peningkatan pendidikan yang lebih tinggi akan menjadikan seseorang pandai dalam menentukan suatu tindakan yang akan menunjang kesehatannya. 
Untuk dapat melihat pengetahuan suatu masyarakat dapat dilihat melalui tingkat pendidikan yang telah dicapai dari warga masyarakat tersebut. Tingkat pendidikan masyarakat yang tinggal di Perumahan Lokojoyo menunjukkan masyarakat dengan pendidikan yang baik, hal ini terlihat dari pendidikan warganya yang minimal sudah tamat SLTP. Dengan demikian semua warga masyarakat yang tinggal di perumahan tersebut dapat menerima informasi yang ada, sehingga mudah dalam menerima suatu informasi.
   
6.2 Hubungan Sikap dan Pengetahuan Tentang Penyakit DHF dengan Praktek Pencegahan Penyakit DHF di Komplek Perumahan Lokojoyo
 Peranan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan dirinya dengan melakukan praktek pencegahan penyakit DHF pada dasarnya berhubungan dengan sikap dan pengetahuan masyarakat tentang masalah yang mempengaruhi atau mengancam kesehatannya. Sebelum melaksanakan suatu tindakan  atau kegiatan untuk bereaksi terhadap obyek di lingkungannya yang membutuhkan suatu penghayatan atau pengetahuan tentang obyek atau masalah tersebut. Disini faktor pengetahuan sangat diperlukan untuk melaksanakan suatu kegiatan yang dilakukan karena kegiatan tersebut akan berakibat pada dirinya sendiri.
Dalam penelitian ini penulis mendapatkan hasil yang sangat signifikan antara sikap dan pengetahuan tentang penyakit DHF dengan praktek pencegahan penyakit DHF di komplek Perumahan Lokojoyo. Hal ini diperkuat melalui uji perhitungan pearson correlation dengan tingkat kemaknaan P = 0,000 dengan tingkat signifikan yang penulis tentukan adalah P = 0,05, ini berarti Ho ditolak. Ini menunjukkan ada hubungan antara kedua variabel tersebut.
Menurut Bloom yang dikutip oleh Notoatmojo, 1996 mengatakan agar seseorang dapat melakukan suatu prosedur dengan baik harus sudah ada tingkat pengetahuan aplikasi. Aplikasi ini diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu situasi atau kondisi yang sebenarnya. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan pengetahuan yang baik seseorang akan mampu mengaplikasikan materi tentang pencegahan penyakit DHF di daerahnya.
Pengetahuan atau kognitif menurut Notoatmojo 1997 mencakup semua tingkatan yaitu; tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tingkatan dalam pengetahuan ini akan memberi gambaran sejauhmana tingkat pengetahuan masyarakat tersebut. Ini berarti semakin tinggi tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat akan semakin mudah dalam menyelesaikan suatu masalah yang ada di sekitarnya.
Sebagaimana dijelaskan pada tabel 5.6 tentang hasil analisa yang menunjukkan 55 orang yang mempunyai sikap dan pengetahuan tentang penyakit DHF baik sebanyak 49 orang melakukan praktek pencegahan penyakit DHF dengan baik, dan hanya 1 orang yang sikap dan pengetahuan tentang penyakit DHF kurang yang melakukan praktek pencegahan penyakit DHF kurang.
Menurut Midelbrook, 1974 menyatakan bahwa tidak adanya pengalaman atau pengetahuan sama sekali mengenai suatu obyek akan cenderung untuk membentuk sikap negatif terhadap obyek tersebut dan sebaliknya adanya pengetahuan atau pengalaman yang baik akan membentuk sikap yang positif dalam melaksanakan suatu aktifitas. Dengan demikian masyarakat yang tahu dan mengerti serta mempunyai pengetahuan yang baik akan mempunyai sikap yang baik dalam menjaga kesehatannya dengan melaksanakan program kesehatan melalui praktek pencegahan DHF.  Masyarakat dengan sikap dan pengetahuan yang baik akan melaksanakan pencegahan penyakit dengan sepenuh hati dan tanpa adanya unsur paksaan dari pihak lain, sehingga terbentuk keteraturan dalam melaksanakan suatu tindakan.
Keberhasilan dalam praktek pencegahan penyakit DHF di masyarakat merupakan hasil yang dicapai dengan adanya sikap dan pengetahuan yang baik yang diwujudkan dengan kegiatan atau program pencegahan dari vektor penyakit tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Notoatmojo, 1995 bahwa perilaku yang didasari oleh suatu pengetahuan yang baik akan berlangsung lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh suatu pengetahuan.

6.3 Hubungan Lingkungan Tempat Tinggal dengan Praktek Pencegahan Penyakit DHF di Komplek Perumahan Lokojoyo
Hasil penelitian penulis, menemukan sebagian besar dari responden mempunyai lingkungan baik dan mempunyai hubungan yang kuat dengan praktek pencegahan penyakit DHF. Hal ini tampak pada tabel 5.7. Dijelaskan  bahwa sebanyak 57 orang yang mempunyai lingkungan yang baik melaksanakan praktek pencegahan penyakit DHF sebanyak 51 orang, lingkungan cukup 8 orang dan melaksanakan praktek pencegahan penyakit DHF dengan baik 6 orang, dan hanya 1  orang dengan lingkungan kurang melakukan praktek pencegahan penyakit DHF cukup. Hubungan ini diperkuat dengan hasil uji perhitungan pearson correlation, dimana nilai kemaknaan P = 0,000 dengan nilai signifikan yang dipilih penulis adalah P = 0,05 ini artinya Ho ditolak, sehingga dapat dipastikan terdapat hubungan lingkungan tempat tinggal dengan praktek pencegahan penyakit DHF.
Lingkungan masyarakat yang tinggal di komplek Perumahan Lokojoyo sangat mempengaruhi derajad kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut, sesuai dengan hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa lingkungan Perumahan Lokojoyo merupakan lingkungan kondusif yang mendukung warga masyarakat untuk melakukan kegiatan dalam menjaga kesehatannya. Lingkungan yang baik akan mempengaruhi masyarakat dalam praktek pencegahan penyakit DHF. Hal ini sesuai apa yang dikemukakan oleh Azwar, 1989 bahwa terdapatnya hubungan antara faktor lingkungan dengan kehidupan manusia.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Perkin 1938 menyebutkan bahwa sehat atau tidaknya seseorang amat tergantung dari adanya keseimbangan yang relatif dari bentuk dan fungsi tubuh, yang terjadi sebagai hasil dari kemampuan penyesuaian diri yang dinamis terhadap pelbagai tenaga atau kekuatan yang umumnya bersumber dari lingkungannya, sehingga timbul adanya penyakit yang menyebabkan sakit atau tidaknya seseorang tergantung dari ada tidaknya suatu proses yang dinamis, dan merupakan hubungan timbal balik.
Terciptanya lingkungan yang baik dan dinamis dapat menunjang kehidupan dan kesehatannya yang pada saat ini telah banyak dilaksanakan manusia dengan program pencegahan. Upaya pencegahan penyakit DHF karena pengaruh lingkungan dapat dilaksanakan dengan praktek pencegahan penyakit DHF dan membuat kondisi lingkungan yang sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan di masyarakat tersebut. Sebagaimana dikemukakan oleh C. Roy dalam teori adaptasinya dinyatakan bahwa semua kondisi lingkungan yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan perilaku seseorang, dengan lingkungan yang baik akan membantu masyarakat dalam mengurangi resiko akibat dari lingkungannya.
Menurut teori stres lingkungan ada dua elemen dasar yang menyebabkan manusia bertingkah laku terhadap lingkungannya. Dua elemen tersebut adalah elemen stressor dan elemen yang kedua adalah stres itu sendiri. Stressor adalah elemen lingkungan yang merangsang individu seperti suhu, kepadatan, dan kebisingan sebagaimana yang dikemukakan oleh Sarlito dalam teori psikologi lingkungannya.    
Adanya lingkungan yang sehat, bersih, teratur, dan tertib di Perumahan Lokojoyo akan memberikan semangat pada warga masyarakat tersebut untuk selalu menjaga kondisi supaya tetap sehat, sehingga secara langsung praktek pencegahan penyakit DHF akan terlaksana. Keadaan lingkungan yang sehat  akan melindungi individu atau masyarakat tersebut dari penyebab penyakit. Faktor lingkungan juga lebih mendukung dalam membangun kesehatan masyarakat dengan upaya pencegahan penyakit sebagaimana dikemukakan oleh ahli kesehatan lingkungan Walter R. Lym bahwa lingkungan mempunyai hubungan timbal balik dengan apa yang dilakukan oleh manusia yang berakibat atau mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Dalam kehidupan bermasyarakat warga yang tinggal di Perumahan Lokojoyo selalu berhubungan dengan lingkungannya. Kondisi lingkungan Perumahan Lokojoyo akan berdampak pada warga yang tinggal di daerah tersebut. Keadaan lingkungan yang baik ini akan membawa warga masyarakat untuk menjaga keselamatan atau kesehatan dirinya. Seperti halnya warga yang tinggal di Perumahan Lokojoyo melaksanakan program pencegahan penyakit DHF di lingkungannya. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Encyclopaedia of science and tehnology, 1960 disebutkan bahwa lingkungan merupakan suatu kondisi diluar dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme-organisme.
Menurut Encyclopaedi Americana, 1974 menyatakan bahwa lingkungan memberi pengaruh di sekeliling organisme. Seluruh kehidupan atau fungsi dibentuk dari reaksi antara organisme dan lingkungan. Interaksi masyarakat Perumahan Lokojoyo dengan lingkungannya sekitarnya cukup baik. Masyarakat dapat bereaksi dengan tepat dengan melakukan praktek pencegahan penyakit DHF, sehingga angka kesakitan akan penyakit ini berkurang. Keberhasilan warga masyarakat dalam praktek pencegahan penyakit ini tidak terlepas dari pengaruh faktor lingkungan yang baik di daerah tersebut. Terlebih lagi lingkungan Perumahan Lokojoyo tersebut merupakan lingkungan yang baru, sehingga keadaan yang baik itu membuat warganya untuk selalu menjaganya.   
Semoga bermanfaat ... Baca juga tentang Cara Menghilangkan Bekas Jerawat dan Obat Sakit Gigi Paling Ampuh


Regards,
Terima kasih telah berkunjung di Alwanku.com dan membaca artikel tentang “ Contoh Pembahasan Penelitian Skripsi Keperawatan ” . Anda boleh meng-copy artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber tulisan dan referensi dari artikel Contoh Pembahasan Penelitian Skripsi Keperawatan dengan URL : http://www.alwanku.com/2012/11/contoh-pembahasan-penelitian-skripsi.html

Baca juga Artikel Menarik terkait “ Contoh Pembahasan Penelitian Skripsi Keperawatan ”