Sebelumnya kita telah membahas secara tuntas tentang Cara Merumuskan Hipotesis Penelitian dan Macam-Macam Hipotesis Penelitian, maka kali ini kita akan melihat lebih jauh tentang bagaimana cara membentuk hipotesis dan berbagai kesalahan dalam pengujian hipotesis.

MENGEMBANGKAN BENTUK HIPOTESIS
Menyatakan suatu bentuk hipotesis yang hendak digunakan, peneliti sebaiknya juga melihat lebih dahulu pada masalah yang hendak diteliti. Jika peneliti setelah mengkaji dari bermacam-macam sumber informasi, dan kemudian menyusunnya dalam sebuah landasan teori, ternyata mereka memperoleh kepastian tentang arah dari variabel yang hendak diuji, maka mereka dapat menggunakan hipotesis yang telah pasti atau hipotesis searah.
Sebagai contohnya, seorang peneliti sosial tentang penduduk ketika menghadapi kriminal di rumahnya mengajukan hipotesis seperti berikut: orang dewasa perempuan secara signifikan akan mempunyai rasa takut yang lebih besar daripada orang dewasa laki-laki. Maka dalam analisis statistika, mereka dapat menggunakan analisis testing satu ekor dan menulis hipotesis seperti berikut.
Ha:Ut > U2
Hr : U1 >U2
Keterangan: U1 = kelompok wanita dewasa U2 = kelompok laki-laki dewasa
Pada kasus lainnya, misal seorang peneliti setelah mencari informasi dari bermacam-macam studi literatur, dan kemudian menyusunnya dalam landasan teori. Sampai landasan teori selesai, ternyata dia belum memperoleh arah apakah ada hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. 
Dalam hal ini, maka dia dapat menyatakan dengan menggunakan hipotesis nihil seperti berikut.
Ho : U1 – U2
Hr : U1 = U2
Keterangan: U1 = toko yang memasang etalase U2 = toko tanpa etalase
Agar supaya fungsi hipotesis sebagai petunjuk dalam analisis data dapat dicapai dengan baik, peneliti harus dapat memformulasikan hipotesis tersebut secara jelas. Untuk mencapai hal itu, ada empat butir penting untuk dapat diperhatikan oleh para peneliti ketika mengembangkan bentuk hipotesis. Keempat butir tersebut antara lain sebagai berikut
  • Hipotesis harus merefleksikan inti daripada studi. Hipotesis yang baik, yaitu
  • Hipotesis yang menyatakan variabel pokok yang hendak diteliti.
  • Hipotesis hendaknya dinyatakan atau ditulis secara tegas dan hanya mempunyai satu pengertian terhadap variabel yang akan diungkap untuk kemudian diuji.
Rangkaian variabel yang hendak dinyatakan harus dapat diuji dengan informasi atau data yang dikumpulkan di lapangan. Untuk itu perlu sekali bagi peneliti untuk dapat merencanakan setiap variabel agar dapat diukur.
Satu pernyataan hipotesis nihil harus diuji dengan satu testing statistika. Sebagai contoh, jika dalam perencanaan penelitian dinyatakan tujuh hipotesis nihil, maka dalam analisis data juga perlu ada tujuh analisis statistikanya.

MENERIMA DAN MENOLAK HIPOTESIS

Hasil uji hipotesis pada analisis statistika, biasanya akan selalu jatuh pada dua kemungkinan yaitu menolak atau menerima.
Suatu uji hipotesis dikatakan menolak, jika dari uji statistika yang dilakukan, peneliti memperoleh hasil akhir bahwa hipotesis nihil yang diajukan oleh si peneliti ditolak pada derajat signifikan tertentu, Hasil uji statistika ini dengan kata lain dapat diartikan bahwa adanya perbedaan hasil variabel yang terjadi bukan disebabkan oleh suatu kebetulan atau “by accident”, tetapi memang didukung dengan data yang ada di lapangan. Interpretasi uji hipotesis dapat pula diartikan dengan melihat sisi lain yang diajukan oleh peneliti, yaitu hipotesis pendamping. Hasil testing statistika menunjukkan bahwa hipotesis riset yang telah ada didukung atau diterima sebagai hal yang benar.
Suatu hipotesis nihil dikatakan diterima, jika hipotesis nihil yang diturunkan dari hasil kesimpulan kajian teoretis tidak ditolak atau diterima. Jika ternyata tes statistika menerima hipotesis nihil, hal ini berarti bahwa perbedaan yang dihasilkan dari proses hasil kajian pustaka, hanyalah disebabkan oleh suatu kebetulan saja atau oleh adanya kesalahan yang tidak disengaja waktu mengambil data di lapangan.
Atau dari hasil uji testing hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa, hipotesis riset yang telah diajukan oleh si peneliti sebagai hipotesis pendamping, ditolak atau tidak didukung oleh informasi yang ada.
Ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam menentukan ditolak atau diterimanya hipotesis nihil yang diajukan oleh peneliti muda. Pertanyaan praktis tersebut adalah haruskah seorang peneliti mengulang kembali uji tesnya, jika hipotesis nihil yang diajukan diterima? Atau tidak sesuai dengan apa yang digambarkan dalam kerangka berpikir. Jawabannya tegas, dalam hal ini bahwa para peneliti tidak diharuskan kembali ke lapangan untuk mencari data kembali, dan mereka tidak dianggap gagal dalam melakukan penelitian. Para peneliti dalam hal ini, langsung dapat mengambil kesimpulan atau menginterpretasi hasil analisisnya, berdasarkan kepada hasil uji testing yang telah dilakukan.
Yang perlu diperhatikan di sini adalah proses uji testing tidak sama dengan proses membuktikan dalam ilmu matematika. Testing hipotesis tidak sama dengan membuktikan. Dalam membuktikan rumus atau soal yang diajukan dalam matematika, seorang siswa harus mengulang kembali, jika mereka belum bisa membuktikan formula yang diajukan. Sedangkan dalam uji hipotesis, peneliti langsung dapat memasukkan pada dua kemungkinan yang ada, yaitu ditolak atau diterima.

KESALAHAN DALAM TESTING HIPOTESIS

Dengan tidak melihat pada ditolak atau diterimanya hasil testing hipotesis, seorang peneliti biasanya akan mempunyai dua kemungkinan tipe kesalahan yang tidak dapat dihindarkan dalam mengambil keputusan tersebut. Dalam istilah statistika, kedua macam kesalahan hipotesis tersebut, yaitu kesalahan tipe I atau error type one dan kesalahan tipe II atau error type two (periksa Gambar 3.5).
1. Kesalahan Tipe I
Seorang peneliti suatu ketika mengajukan hipotesis nihil yang memang kenyataannya adalah benar dengan peluang salah sebesar a. Kemudian merek menguji hipotesis tersebut. Hasil keputusan yang diperoleh ternyata ia menerima maka keputusan tersebut benar. Peluang peneliti menerima hipotesis nihil bena adalah sebesar (1-(x)).
Jika suatu ketika terjadi kasus bahwa hipotesis nihil yang benar tersebut keti diuji ternyata ditolak, maka keputusan peneliti menolak hipotesis nihil yang benar tersebut, dikatakan peneliti mengalami kesalahan type I yang besarnya adalah (a)

2. Kesalahan Tipe II
Seorang peneliti suatu ketika ternyata mengajukan hipotesis nihil yang keli Contoh hipotesis peneliti salah, misalnya dalam penelitian ketenagakerjaan yang terdiri orang dewasa laki-laki dan perempuan. Peneliti melakukan studi produk fisik, antara tenaga kerja laki-laki dengan tenaga kerja perempuan. Dia mengajuk hipotesis nihilnya seperti berikut, bahwa tidak ada perbedaan signifikan anta produksi yang dihasilkan grup pekerja perempuan dan pekerja laki-laki. Peneliti ternyata menolak terhadap hipotesis yang salah tersebut. Maka keputusan tersebut adalah benar dan mempunyai peluang yang besarnya (1-13). Tetapi jika hipotesis’ nihil yang salah tersebut setelah diuji kemudian diambil keputusan untuk menerimanya, maka dia telah termasuk dalam kesalahan tipe 11 yang besarnya adalah ((3).
Pertanyaan yang sering muncul dalam kesalahan mengambil keputusan ba seorang peneliti di antaranya termasuk: apakah dampak dari kesalahan mengambil’ keputusan tersebut? Dan dapatkah dicegah agar pengambilan keputusan tetap benar?
Pengambilan keputusan yang keliru pada umumnya akan mempunyai damp. praktis. Dari contoh hipotesis nihil di atas. Keadaan di sekitar kita yang sebenarnya terjadi adalah kemampuan fisik pekerja wanita mempunyai perbedaan. Perbedaan. tersebut memang disebabkan oleh bentuk alami (nilai kodrati) dari wanita dewasa. Sebagai contohnya, bentuk tubuh dan anggota badan yang lebih halus dibanding pria. Suara yang lebih halus, dan kondisi lemah saat terjadi datang bulan dan sebagainya. Yang bentuk alami tersebut tidak dimiliki oleh tenaga kerja pria. Jika perusahaan ternyata benar-benar menggunakan hasil penelitian di atas, dengan mengambil keputusan: “tidak membedakan antara pekerja wanita dan pria”. Maka pekerja wanita lah yang akan menderita kerugian sebagai akibat dari penelitian yang keliru.
Mengenai bagaimana agar seorang peneliti tidak jatuh dalam melakukan Pengambilan keputusan. Berikut adalah beberapa butir penting yang mungkin dapat membantu mengurangi kesalahan dalam mengambil keputusan:
  1. Hendaknya para peneliti hati-hati dan cermat dalam melakukan studi dan menuangkan dalam kerangka berpikir.
  2. Ketika mengajukan hipotesis nihil, hendaknya peneliti tetap melihat pada hubungan teoretis dengan kenyataan yang ada di lapangan.
  3. Data yang dikumpulkan hendaknya data yang relevan dan dengan hipotesis yang hendak diujikan.

Baca juga tentang Pengertian Penelitian Menurut Para Ahli
 

Terima kasih telah berkunjung dan membaca artikel Bentuk Kesalahan Hipotesis ini. Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-teman ya ... Semoga bermanfaat.

plusone  twitter  facebook Share